
TRAWAS, MOJOKERTO – Pesona Gunung Penanggungan atau yang akrab disebut Puncak Pawitra, seolah tak pernah pudar. Di tengah dominasi jalur Tamiajeng yang selalu ramai, kini hadir alternatif baru yang menawarkan pengalaman berbeda—lebih tenang, lebih alami, dan tak kalah memikat: Jalur Sumber Lumpang.
Belum lama ini, komunitas Pendaki Jawa Timur (PANJAT) menjajal jalur yang terletak di kawasan Desa Duyung, Trawas. Lokasinya yang berdekatan dengan jalur populer membuat Sumber Lumpang menjadi opsi strategis bagi para pendaki yang ingin menikmati suasana tanpa hiruk-pikuk.
Perjalanan dimulai dari pos perizinan dengan biaya yang cukup ramah di kantong, hanya Rp15.000 per orang. Tak butuh waktu lama, sekitar 15 menit berjalan kaki, pendaki langsung disuguhi aliran sungai jernih yang menyegarkan. Langkah berikutnya ditemani rimbunnya kebun kopi yang menghadirkan kesejukan alami khas pegunungan.
Memasuki Pos 1, jalur mulai menawarkan pilihan menarik. Pendaki bisa mengambil arah kanan menuju Puncak Gunung Mas dan makam Gunung Bende, atau memilih jalur lurus yang lebih panjang melalui Pos 2 Lebrok hingga mencapai Pos 3 Puncak Gunung Bende.

Pos 3 menjadi salah satu titik paling diminati. Area berkemahnya luas, mampu menampung puluhan tenda. Dari sini, panorama Gunung Welirang tampak gagah di siang hari, sementara malam menghadirkan hamparan city light yang menenangkan. Di titik ini pula tersedia shelter sederhana serta Warung Gunung Cak Pardi—tempat di mana gorengan hangat menjadi “kemewahan kecil” yang terasa istimewa di tengah jalur sunyi.
Selepas Pos 3 dan kawasan Watu Gede, tantangan mulai terasa. Pendaki harus menghadapi tanjakan ikonik yang dikenal sebagai Tanjakan Kerek atau Tanjakan Anjing. Jalur yang licin dengan kemiringan tajam ini menuntut fokus dan stamina ekstra. Namun, perjuangan itu terbayar saat tiba di Pos 4 Cemoro Nekat, di mana siluet Puncak Pawitra mulai tampak jelas.
Perjalanan dilanjutkan sekitar 20 menit menuju Latar Pawitra—sebuah sabana luas yang menyuguhkan panorama menakjubkan. Hamparan rumput hijau berpadu dengan langit terbuka menciptakan suasana yang sulit dilupakan.

Humas PANJAT, Nanang Haromain, mengaku terkesan dengan potensi jalur ini. Ia menilai Sumber Lumpang layak menjadi pesaing serius jalur-jalur populer.
“Masak tempat seasri dan seasik ini masih kalah dengan jalur yang selalu ramai seperti Tamiajeng?” ujarnya berseloroh di sela pendakian.

Menurutnya, vegetasi yang masih rapat serta kontur jalur yang relatif nyaman menjadi keunggulan utama. Ia bahkan menyebut Latar Pawitra berpotensi menjadi ikon baru jalur ini.
Bagi para pencinta alam yang mendambakan ketenangan dan keaslian hutan pegunungan, Jalur Sumber Lumpang adalah “permata tersembunyi” yang patut masuk dalam daftar tujuan berikutnya.


