banner 728x250

PENDAKI JAWA TIMUR ( PANJAT) : Meramu konsep Baru Komunitas Pendaki di Jantung Jabodetabek

​BEKASI – Dunia pendakian tanah air kini sedang berada di persimpangan jalan. Di tengah menjamurnya komunitas pecinta alam, muncul kritik tajam mengenai arah dan esensi dari kegiatan mendaki itu sendiri. Bukan lagi soal seberapa tinggi puncak yang dipijak, melainkan apa yang ditinggalkan bagi alam dan generasi mendatang.
​Dalam sebuah diskusi hangat di kawasan Bekasi hingga Waduk Pondok Hijau, pada tanggal 20 April 2026 Dua Tokoh senior pegiat alam, Mas Aji (penggagas komunitas pecinta alam Bekasi) dan Mas Nyonk (tokoh senior Penat Jabodetabek), serta Ketua dari PENDAKI JAWA TIMUR ( PANJAT) Yaitu Gus Pri membedah realitas pahit sekaligus peluang besar di balik tren pendakian modern.

​Mas Aji menyoroti fenomena komunitas yang terjebak dalam jebakan seremonial. Menurutnya, banyak kelompok yang kini berdiri bukan berdasarkan semangat persaudaraan atau pelestarian, melainkan kepentingan pragmatis.
​”Banyak kawan-kawan komunitas yang terjebak hanya pada seremoni tanpa memberikan hal baru. Bahkan, ada kecenderungan komunitas dijadikan alat untuk mencari keuntungan pribadi atau mempertebal dompet,” ungkap Mas Aji.
​Fenomena “pemekaran” komunitas yang dipicu oleh ego atau ketidaksepakatan bisnis, menurutnya, justru memperlemah esensi silaturahmi yang seharusnya menjadi fondasi utama pecinta alam.

​Menyambung hal tersebut, Mas Nyonk, pendaki kawakan yang sudah menaklukkan Gunung Lawu sejak tahun 1987, menawarkan solusi konkret yang lebih substansial. Ia mengkritisi pola pembersihan jalur atau penanaman pohon yang selama ini hanya terfokus di bawah ketinggian 1.000 mdpl.
​Konsep yang ia tawarkan adalah “Perawatan Jalur Estafet” Yaitu perawatan jalur yang di bagi berdasarkan zona
​Zona 0 – 1.000 mdpl: Dikelola oleh pendaki senior/usia matang.
​Zona 1.000 – 2.000 mdpl: Dikelola oleh pendaki usia produktif.
​Zona 2.000 – 3.000 mdpl ke atas: Dikelola oleh pendaki muda yang memiliki fisik prima.

​”Tujuannya agar jalur terawat tuntas dari basecamp hingga puncak, termasuk pemeliharaan tanda jalur yang bekerja sama dengan pihak Perhutani dan sponsor,” jelas Mas Nyonk

​Hal menarik lainnya adalah rencana kolaborasi dengan dunia pendidikan. Mas Nyonk menyoroti tren tektok (pendakian cepat tanpa menginap) di kalangan pelajar dan pendaki muda yang seringkali mengabaikan keselamatan demi konten atau kebanggaan semu.
​Rencananya, akan digelar sesi berbagi (sharing session) di sekolah-sekolah untuk ​Memberikan pemahaman mendalam tentang risiko nyata di atas gunung.
​Menghapus Keabaian, Mengubah pola pikir dari sekadar “menginjak gunung” menjadi “merawat gunung”.
​ Membangun kolaborasi antara pendaki muda (pelajar), Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam), hingga instansi pemerintahan (Kedinasan).
Serta ada beberapa visi yang sudah terkonsep
​Visi Kedepan: Gunung Bukan untuk Diinjak-injak
​Visi besar dari gagasan ini adalah terciptanya ekosistem pendakian yang terintegrasi. Jika jaringan antara pelajar, mahasiswa, dan pemerintah sudah terbentuk, pengelolaan gunung di Indonesia bisa dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.

​“Terbayang jika semua terlibat, kita tidak hanya akan sampai di puncak untuk menginjak-injak tanahnya, tapi kita benar-benar merawatnya dengan benar,” ujar Gus pri selaku ketua PENDAKI JAWA TIMUR ( PANJAT) DIakhir diskusi tersebut dengan optimis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *