SIDOARJO PetaBerita Di balik kokohnya nama besar PDI Perjuangan, tersimpan kisah yang tak lagi sekadar sunyi, melainkan mulai menggema sebagai jeritan hati yang lama terpendam. Bukan dari ruang elite, bukan dari panggung megah, tetapi dari lorong-lorong sederhana tempat para kader akar rumput menanamkan hidup dan harapan mereka selama puluhan tahun.
Hari itu, Kamis (30/4/2026), bukan sekadar pertemuan biasa. Di sebuah ruangan sederhana, sejumlah Pengurus Anak Cabang (PAC) berkumpul. Namun yang hadir bukan hanya tubuh, melainkan juga luka, kenangan, dan kegelisahan yang selama ini dipendam dalam diam. Percakapan demi percakapan pecah, bukan lagi sebatas diskusi, tetapi menjadi luapan emosi yang tak mampu lagi dibendung.
Suasana berubah haru ketika Cak Kusen, tokoh PAC Candi, angkat bicara. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, seolah membawa seluruh beban sejarah yang pernah ia lalui bersama partai.
“Kami ini bukan orang baru. Kami ada saat partai ini hampir tenggelam. Kami bertahan ketika tak ada yang mau berdiri bersama. Tapi hari ini, kami merasa seperti orang asing di rumah sendiri,” ucapnya lirih, memecah keheningan.
Kalimat itu menggantung di udara, menyisakan kesunyian yang justru terasa paling bising. Bagi mereka, partai bukan sekadar kendaraan politik, melainkan rumah yang dibangun dengan pengorbanan, loyalitas, bahkan air mata.
Rencana perombakan struktur yang dibungkus dengan nama “regenerasi” menjadi luka yang kian menganga. Bagi kader lama, ini bukan hanya tentang pergantian posisi. Ini tentang rasa yang terabaikan. Tentang pengabdian yang seolah terhapus begitu saja tanpa jejak, tanpa ucapan terima kasih.
“Kami tidak anti generasi muda. Kami bangga pada mereka. Tapi jangan sampai semangat perubahan justru mengubur sejarah. Kami ini bukan beban… kami bagian dari fondasi,” lanjut Cak Kusen, suaranya mulai meninggi, penuh kepedihan.
Keresahan itu semakin menjadi ketika isu-isu beredar liar di grup WhatsApp internal. Kabar tentang langkah-langkah sepihak dari jajaran KSB DPC PDI Perjuangan Sidoarjo menyebar tanpa klarifikasi yang jelas. Tak ada ruang dialog. Tak ada pelukan. Yang ada hanya jarak yang kian melebar antara struktur atas dan akar di bawah.
Namun mereka tidak memilih diam.
Di tengah rasa kecewa yang menghimpit dada, para PAC sepakat untuk bangkit, bukan untuk melawan, tetapi untuk didengar. Mereka bertekad membawa suara ini ke DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Mereka ingin mengetuk pintu yang selama ini terasa tertutup.
Harapan mereka sederhana, namun terasa begitu mahal: keadilan, keterbukaan, dan penghargaan.
Langkah berani pun mulai disusun. Rencana audiensi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sidoarjo menjadi sinyal bahwa mereka tak lagi ingin berjalan dalam ketidakpastian. Dugaan penolakan laporan Bantuan Politik (BANPOL) 2025 menjadi salah satu pemantik yang mempertegas kegelisahan itu.
Mas Eko dari PAC Sidoarjo Kota menyampaikan dengan nada tegas, namun sarat kejujuran.
“Kami tidak sedang memberontak. Kami hanya tidak ingin diam ketika sesuatu terasa tidak benar. Kami mencintai partai ini… dan karena cinta itu, kami ingin semuanya kembali lurus,” katanya, penuh penekanan.
Di tengah suasana yang kian emosional, Ustadz Gunawan dari PAC Wonoayu mencoba menenangkan. Namun yang ia sampaikan justru semakin menggugah hati
Dengan suara bergetar, ia mengutip pesan abadi dari Soekarno:
“JAS MERAH… Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.”
Kalimat itu seakan menampar kesadaran semua yang hadir. Bahwa di balik kejayaan hari ini, ada keringat dan darah mereka yang pernah berjuang tanpa pamrih. Bahwa melupakan mereka, sama saja dengan menghapus jati diri perjuangan itu sendiri.
Kini, para kader tidak meminta jabatan. Tidak menuntut kekuasaan.
Mereka hanya ingin satu hal: dihargai.
Dihargai sebagai bagian dari perjalanan.
Dihargai sebagai fondasi yang pernah menopang.
Dihargai sebagai manusia yang telah memberi tanpa meminta kembali.
Di tengah badai yang mengguncang, mereka tetap bertahan. Dengan sisa harapan yang mereka genggam erat, mereka percaya bahwa PDI Perjuangan masihlah rumah. Rumah yang seharusnya menghangatkan, bukan meninggalkan.
Dan di sanalah, di antara luka dan harapan, jeritan itu terus bergema.
Bukan untuk menjatuhkan,
tetapi untuk menyelamatkan.






